“Cerita para buruh pengupas bawang di Pasar Legi Solo: upah Rp600 per kg untuk topang kebutuhan keluarga.”
menyalajktku – Di tengah ramainya aktivitas Pasar Legi Solo, ada pekerjaan yang mungkin terlihat sederhana bagi orang yang hanya lewat beberapa menit, tetapi menjadi sumber penghasilan penting bagi sejumlah keluarga. Duduk berjam-jam di antara tumpukan bawang, para buruh pengupas harus bekerja cepat dan teliti agar semakin banyak bawang yang selesai dikupas. Dari setiap kilogram pekerjaan itu, upah yang mereka dapat bisa sangat kecil dibanding harga berbagai kebutuhan hidup saat ini.
Sorotan terbaru datang dari cerita buruh pengupas bawang di Pasar Legi, Solo, yang dilaporkan menerima upah sekitar Rp600 per kilogram untuk pekerjaan tertentu. Kompas.com pada 19 Agustus 2026 mengangkat kisah mereka melalui laporan berjudul Cerita Para Buruh Pengupas Bawang di Pasar Legi Solo: Upah Rp 600 Per Kg untuk Topang Kebutuhan Keluarga.
Angkanya terdengar kecil, bahkan mungkin surprisingly kecil kalau dibandingkan dengan harga kopi kekinian atau ongkos parkir di kota besar. Tetapi bagi para buruh tersebut, setiap kilogram punya arti. Semakin banyak bawang yang berhasil diselesaikan, semakin banyak pula rupiah yang bisa dibawa pulang untuk membeli makanan, membayar kebutuhan rumah, atau sekadar memastikan aktivitas keluarga tetap berjalan.
Cerita ini sekaligus memperlihatkan sisi lain dari kehidupan pasar tradisional. Di balik barang dagangan yang tersusun rapi dan aktivitas jual beli sejak pagi, terdapat tenaga kerja informal yang bekerja dengan sistem upah berdasarkan hasil. Mereka mungkin jarang menjadi headline, tetapi kontribusinya menjadi bagian penting dari rantai perdagangan pangan sehari-hari.
Buruh Pengupas Bawang Pasar Legi Solo Diupah Rp600 per Kilogram
Laporan Kompas.com pada 19 Agustus 2026 menyoroti kehidupan para buruh pengupas bawang di Pasar Legi Solo dengan upah sekitar Rp600 per kilogram. Pekerjaan tersebut menjadi salah satu cara mereka memperoleh pendapatan untuk menopang kebutuhan keluarga.
Sistem kerja berdasarkan jumlah bawang yang berhasil diselesaikan membuat pendapatan mereka sangat bergantung pada produktivitas. Semakin banyak kilogram bawang yang mampu ditangani, semakin besar pula upah yang diperoleh. Namun, ada batas fisik yang tidak bisa diabaikan.
Mengupas bawang terlihat easy kalau dilakukan satu atau dua kilogram di rumah. Tetapi bayangkan melakukan pekerjaan serupa berjam-jam, setiap hari, dengan target puluhan kilogram. Tangan harus terus bergerak, badan berada dalam posisi yang relatif sama, sementara mata dan hidung terus berhadapan dengan aroma bawang.
Pekerjaan tersebut pada akhirnya membutuhkan ketahanan fisik dan konsistensi. Ada pekerjaan yang mungkin tidak membutuhkan meeting, laptop, atau seragam kantor, tetapi tetap menuntut endurance yang tinggi. Buruh pengupas bawang adalah salah satu contohnya.

Kalau hanya melihat nominal Rp600, nilainya mungkin terasa hampir insignificant dalam kehidupan kota hari ini. Tetapi sistem borongan harus dilihat dari total pekerjaan yang mampu diselesaikan.
Sebagai ilustrasi sederhana, jika seseorang dibayar Rp600 per kilogram dan mampu menyelesaikan 30 kilogram bawang, pendapatan kotornya sekitar Rp18.000. Jika berhasil mencapai 50 kilogram, nilainya menjadi sekitar Rp30.000. Angka tersebut tentu hanya ilustrasi matematis karena jumlah pekerjaan nyata dapat berubah tergantung stok, jenis bawang, metode pengupasan, dan kesepakatan dengan pedagang.
Di sinilah realitas pekerja informal menjadi terlihat. Income mereka tidak selalu fixed seperti pekerja bergaji bulanan. Kalau barang yang tersedia sedikit, pekerjaan otomatis berkurang. Kalau tubuh sedang tidak fit dan kemampuan mengupas turun, penghasilan juga bisa ikut turun.
Sistem seperti ini membuat setiap kilogram benar-benar meaningful.
Bagi keluarga yang mengandalkan penghasilan harian, uang puluhan ribu rupiah tetap memiliki fungsi konkret. Bisa untuk membeli beras, lauk, transportasi, kebutuhan sekolah anak, atau pengeluaran rumah tangga lainnya.
Upah Pengupas Bawang Ternyata Berbeda Tergantung Jenis Pekerjaan
Hal penting yang perlu dipahami adalah upah pengupas bawang di Pasar Legi tidak selalu menggunakan satu tarif yang sama. Jenis pekerjaan dan tingkat pengupasan bisa menghasilkan sistem pembayaran berbeda.
Dalam laporan lain mengenai kondisi Pasar Legi pada Agustus 2026, buruh bernama Siti Amirah menjelaskan bahwa pengupasan awal bawang putih, seperti memisahkan kulit luar atau memecah bonggol, dibayar sekitar Rp10.000 untuk satu sak berisi sekitar 20 kilogram. Artinya, kalau dirata-ratakan secara matematis, nilainya berada di kisaran Rp500 per kilogram. Sementara pengupasan sampai benar-benar bersih dapat dibayar sekitar Rp2.000 per kilogram.
Data tersebut menunjukkan bahwa angka Rp600 per kilogram yang muncul dalam laporan terbaru bukan berarti semua pekerjaan pengupasan bawang di Pasar Legi memakai tarif yang exactly sama. Ada perbedaan berdasarkan proses, jenis bawang, sampai bentuk pekerjaan yang diminta pedagang.
Siti yang telah bekerja sebagai pengupas bawang selama lebih dari 20 tahun bahkan menyebut pendapatannya sehari dapat berada di kisaran Rp20.000 hingga Rp30.000. Untuk pekerjaan pemecahan bonggol, ia mengaku biasanya mampu mengerjakan hingga sekitar tiga karung dalam sehari, masing-masing dihargai Rp10.000.
Jadi, melihat upah pekerja seperti ini memang tidak bisa hanya lewat satu angka. Sistemnya jauh lebih kompleks dibanding sekadar “sekian rupiah per kilogram”.
Sudah Lama Jadi Bagian dari Kehidupan Pasar Legi
Profesi buruh pengupas bawang bukan fenomena baru di Pasar Legi. Dokumentasi ANTARA bahkan menunjukkan keberadaan pekerja pengupas bawang di pasar tersebut sejak bertahun-tahun lalu.
Pada Maret 2010, ANTARA Foto mendokumentasikan sejumlah pekerja yang mengupas bawang di Pasar Legi Solo. Saat itu, mereka dilaporkan mendapat upah sekitar Rp150 untuk setiap kilogram bawang dan rata-rata dapat mengupas sekitar 100 kilogram per hari.
Dua tahun kemudian, pada Agustus 2012, dokumentasi ANTARA kembali memperlihatkan buruh pengupas bawang merah di Pasar Legi. Pada periode tersebut, upah dilaporkan sekitar Rp200 per kilogram.
Kalau dibandingkan secara nominal, tarif memang meningkat dari Rp150 pada 2010, Rp200 pada 2012, hingga beberapa ratus rupiah atau lebih dalam berbagai sistem pengupahan pada 2026. Namun, perbandingan tersebut tidak bisa langsung dianggap sebagai peningkatan kesejahteraan karena harga kebutuhan hidup juga berubah selama lebih dari satu dekade.
Yang jelas, dokumentasi tersebut memperlihatkan bahwa pekerja pengupas bawang sudah lama menjadi bagian dari ekosistem Pasar Legi.
Mereka bukan pemain baru yang muncul karena sebuah tren. Pekerjaan tersebut sudah menjadi mata pencaharian bagi sebagian warga selama bertahun-tahun.
Bekerja Berjam-jam di Tengah Tumpukan Bawang
Pasar tradisional punya rhythm sendiri. Aktivitas bisa dimulai ketika banyak orang masih tidur, terutama untuk komoditas pangan yang harus segera dipindahkan dari distributor ke pedagang.
Di tengah ritme tersebut, buruh pengupas bawang menjalankan pekerjaan yang repetitive tetapi membutuhkan fokus. Bawang harus dipisahkan, dibersihkan, atau dikupas sesuai kebutuhan pedagang.
Pekerjaan yang dilakukan berulang-ulang selama berjam-jam tentu membawa tantangan fisik. Posisi duduk yang lama dapat membuat punggung atau pinggang terasa tidak nyaman. Tangan digunakan terus-menerus untuk menangani bawang, sementara debu kulit dan aroma kuat menjadi bagian dari lingkungan kerja.
Belum lagi jika jumlah bawang sedang banyak. Di satu sisi, stok banyak berarti peluang mendapatkan penghasilan lebih besar. Namun di sisi lain, tubuh punya limit.
Siti Amirah, misalnya, menjelaskan bahwa ia paling banyak mampu mengerjakan sekitar tiga karung dalam sehari. Kapasitas tersebut sangat bergantung pada kondisi fisiknya serta jumlah barang yang tersedia.
In other words, semakin banyak pekerjaan tidak otomatis berarti penghasilan bisa naik tanpa batas.
Tidak Ada Kepastian Pendapatan Setiap Hari
Salah satu karakter utama pekerjaan borongan adalah ketidakpastian income. Berbeda dengan pegawai dengan gaji bulanan, buruh pengupas bawang biasanya mendapatkan pendapatan sesuai volume pekerjaan yang berhasil diselesaikan.
Ketika pasar ramai dan stok bawang tersedia dalam jumlah besar, mereka mungkin punya kesempatan bekerja lebih banyak. Tetapi ketika kiriman berkurang, penghasilan ikut terdampak.
Siti menjelaskan pendapatan hariannya bergantung pada kemampuan mengupas bawang. Kadang ia mendapat sekitar Rp20.000 sehari, sementara pada hari lain jumlahnya dapat berbeda.
Ketidakpastian seperti ini menjadi common reality bagi banyak pekerja sektor informal di Indonesia. Mereka tidak selalu memiliki jumlah pemasukan yang sama setiap bulan, tetapi berbagai kebutuhan rumah tangga tetap datang dengan jadwal yang cukup konsisten.
Tagihan listrik tidak peduli hari itu bawang yang dikupas banyak atau sedikit. Harga beras juga tidak otomatis turun ketika penghasilan sedang sepi.
That is the tough part.
Pasar Legi dan Ekonomi Rakyat yang Jarang Terlihat
Pasar Legi merupakan salah satu pusat perdagangan tradisional penting di Surakarta. Aktivitas komoditas pangan di pasar tersebut melibatkan begitu banyak pihak, dari pemasok, pedagang besar, pedagang kecil, pengangkut barang, sampai tenaga pengupas.
Ketika konsumen membeli satu kilogram bawang yang sudah bersih, biasanya yang terlihat hanya produknya. Jarang ada yang memikirkan berapa banyak tangan yang sebelumnya terlibat.
Ada petani yang menanam. Ada pekerja yang memanen. Ada distributor yang mengangkut. Ada pedagang yang membeli dalam jumlah besar. Ada buruh bongkar muat. Kemudian bisa ada pekerja pengupas sebelum bawang sampai ke pelanggan tertentu.
Rantai tersebut menunjukkan bahwa pasar bukan cuma tempat uang berpindah dari pembeli ke pedagang.
Pasar adalah ekosistem livelihood.
Setiap karung yang datang bisa berarti pekerjaan untuk beberapa orang. Setiap kilogram yang terjual punya economic footprint yang lebih luas dari yang kelihatan di permukaan.
Viral Upah Pengupas Bawang Buka Diskusi Lebih Besar
Profesi pengupas bawang menjadi sorotan nasional pada Agustus 2026 setelah pernyataan Presiden Prabowo Subianto dalam pidato kenegaraan mengenai seorang buruh pengupas bawang asal Kabupaten Bogor.
Dalam pidatonya, Prabowo memperkenalkan seorang penerima Program Keluarga Harapan bernama Susanah. Pernyataan yang terdengar menyebut upah pengupasan bawang sebesar Rp700.000 per kilogram kemudian menjadi perbincangan luas dan mendapat respons dari buruh maupun pedagang di Pasar Legi Solo.
Siti Amirah mengaku terkejut dengan angka tersebut karena sangat jauh dari kondisi yang ditemuinya selama lebih dari dua dekade bekerja. Pedagang bernama Tini juga menilai nominal tersebut tidak masuk dalam kalkulasi perdagangan bawang karena bahkan modal satu karung bawang putih berada di kisaran Rp500.000 sampai Rp600.000.
Di Pasar Legi, sistem yang dijelaskan para pekerja justru berada pada hitungan ribuan rupiah untuk satu karung atau beberapa ribu rupiah per kilogram tergantung tingkat pengupasan.
Perdebatan tersebut pada akhirnya membuka perhatian publik terhadap profesi yang sebelumnya mungkin jarang dibicarakan.
Dan sometimes, dari sebuah angka yang viral, kita justru menemukan realitas pekerjaan yang jauh lebih penting untuk dibahas.
Dari Rp150 hingga Rp600, Nominal Naik tapi Tantangannya Tetap Ada
Kalau melihat dokumentasi historis, perubahan upah pengupas bawang di Pasar Legi cukup menarik. Pada 2010, ANTARA mencatat sekitar Rp150 per kilogram. Pada 2012, angkanya sekitar Rp200 per kilogram. Sementara laporan Kompas pada 2026 mengangkat pekerja dengan upah sekitar Rp600 per kilogram.
Secara nominal memang ada kenaikan beberapa kali lipat.
Namun, 16 tahun adalah waktu yang panjang.
Selama periode tersebut, biaya makanan, tempat tinggal, transportasi, pendidikan, dan berbagai kebutuhan rumah tangga juga mengalami perubahan. Maka, kenaikan nominal tidak otomatis menggambarkan peningkatan daya beli pekerja dengan proporsi yang sama.
Justru cerita buruh yang masih mengandalkan pendapatan puluhan ribu rupiah sehari memperlihatkan bahwa kelompok pekerja harian berada pada posisi ekonomi yang cukup vulnerable.
Mereka punya skill dan memberikan value dalam rantai perdagangan, tetapi bargaining power terhadap sistem upah biasanya terbatas.
Pekerjaan Sederhana yang Punya Nilai Besar bagi Keluarga
Ada kecenderungan kita melihat pekerjaan berdasarkan prestige. Pekerjaan dengan kantor keren dianggap lebih meaningful, sementara pekerjaan manual kadang dipandang sebelah mata.
Padahal, bagi keluarga yang hidup dari pekerjaan tersebut, tidak ada yang trivial.
Rp600 per kilogram mungkin small number dalam laporan berita. Tetapi angka itu kemudian berubah menjadi nasi di meja makan, ongkos anak ke sekolah, sabun, minyak goreng, atau kebutuhan kecil lain yang kalau dikumpulkan punya impact besar.
Di sinilah cerita buruh pengupas bawang di Pasar Legi menjadi relevan.
Bukan karena pekerjaannya extraordinary, tetapi justru karena sangat ordinary.
Ada begitu banyak orang yang menjalani pekerjaan serupa di berbagai pasar Indonesia tanpa pernah muncul di layar televisi atau feed media sosial. Mereka bekerja, pulang, lalu mengulang proses yang sama keesokan harinya.
Upah Rp600 per Kg Jadi Potret Realitas Buruh Harian
Cerita buruh pengupas bawang di Pasar Legi Solo dengan upah sekitar Rp600 per kilogram memberikan gambaran nyata mengenai kehidupan pekerja informal yang bergantung pada hasil kerja harian. Tidak ada penghasilan yang sepenuhnya pasti karena jumlah bawang, kondisi tubuh, dan kebutuhan pedagang dapat menentukan berapa banyak pekerjaan yang tersedia.
Data dari berbagai laporan juga menunjukkan sistem upah tidak seragam. Ada pekerjaan yang dihitung per kilogram, ada pula yang dihitung per karung. Pengupasan awal bawang putih dapat dibayar sekitar Rp10.000 untuk satu karung 20 kilogram, sedangkan pekerjaan sampai benar-benar bersih bisa memiliki tarif lebih tinggi.
Cerita tersebut seharusnya tidak berhenti pada rasa kaget melihat angka Rp600. Yang lebih penting adalah memahami bagaimana pekerja dengan pendapatan borongan menjalani kehidupan dalam kondisi biaya hidup yang terus berjalan.
Di balik satu kilogram bawang yang bersih di pasar, ternyata ada proses panjang dan tenaga manusia yang mungkin selama ini hampir invisible bagi konsumen.
Para pengupas bawang di Pasar Legi menunjukkan bahwa kerja keras tidak selalu hadir dalam bentuk pekerjaan yang glamorous. Sometimes, kerja keras itu berbentuk tangan yang terus bergerak di antara tumpukan bawang sejak pagi, mengumpulkan rupiah sedikit demi sedikit, sampai akhirnya cukup untuk dibawa pulang kepada keluarga.
Referensi
- Kompas.com — Cerita Para Buruh Pengupas Bawang di Pasar Legi Solo: Upah Rp 600 Per Kg untuk Topang Kebutuhan Keluarga, 19 Agustus 2026.
- Energika — Reaksi Buruh Pasar Legi Solo Soal Upah Pengupas Bawang Rp700 Ribu, 15 Agustus 2026.
- AsatuNews — Buruh Pasar Legi Solo Kaget Prabowo Sebut Upah Bawang Rp700 Ribu, 15 Agustus 2026.
- ANTARA Foto — Buruh Pengupas Bawang, dokumentasi Pasar Legi Solo, 12 Maret 2010.
- ANTARA Foto — Buruh Kupas Bawang, dokumentasi Pasar Legi Solo, 1 Agustus 2012.











Leave a Reply